DISNEY-FIKASI: ANTARA KETERTARIKAN DAN KETERIKATAN

“Terus Sangkuriangnya dipenjara nggak, bu?”

“Sangkuriang nggak dipenjara, tapi dia dihukum oleh ibunya”

“Oh, zaman dulu belum ada penjara ya, bu?

“Iya, tapi setiap ada yang melakukan kesalahan pasti dihukum. Eneng bobo sekarang ya, besok kita terusin lagi ceritanya.”

Itulah penggalan percakapan antara saya dan ibu saya, di suatu malam 17 Agustus 14 tahun lalu, hari di mana saya berulang tahun dan ibu mengahdiahi saya sebuah buku dongeng nusantara. Meskipun sudah menginjak usia tujuh tahun, tapi ritual dongeng sebelum tidur belum juga luntur. Lewat ritual itulah, saya berkenalan dengan Malin Kundang, Timun Mas dan Buto Ijo, Ciung Wanara, Bawang Merah dan Bawang Putih, juga Sangkuriang lewat lisan sang ibu.

Ya, tapi itu dulu, dulu sekali, dulu saat kumpulan ceritanya masih dikemas dalam lay out yang pas-pasan. Sekarang, adik-adik saya, tak perlu menunggu waktu tidur untuk berkenalan dengan para tokoh legenda nusantara tersebut. Mereka tinggal memegang remot sembari duduk manis di depan layar kaca yang tengah menyajikan gambar dari sebuah DVD atau VCD. Alhasil, wajah-wajah mereka pun muncul.

Memang tak bisa dimungkiri, kemajuan teknologi akhirnya mau tidak mau menggiring manusianya untuk terus bertransformasi. Semua aspek digiring untuk melewati gerbang tranformasi, begitu pun cerita rakyat. Hingga akhirnya cerita rakyat hidup dalam beberapa bentuk, bentuk lisan, bentuk tulis, dan kini telah hadir cerita rakyat berwujud audio-visual.

Semestinya kita turut bersukacita, karena ketika budaya sastra lisan kian tergerus zaman, generasi-generasi muda masih bisa mengenal Malin Kundang dan kawan-kawan, melalui sebuah teknologi audio-visual dalam bentuk kepingan Cassette Disc (CD). Tetapi, bagaimanakah esensi cerita yang disajikan? Sesuaikah dengan versi cerita asli?

Clara Evi Citraningtyas dalam penelitiannya yang berjudul “Mengemas Malin Kundang dalam VCD: Urbanisasi Cerita Rakyat” berpendapat bahwa hal yang paling mencolok adalah pengaruh disney-fikasi. Dalam VCD Malin Kundang, hadir tokoh-tokoh binatang yang dapat berkomunikasi dengan manusia, bahkan kehadiran tokoh-tokoh binatang tersebut menjadi pemeran yang berperan penting dalam alur cerita. Dikisahkanlah si Beo (burung Beo) dan si Cerdik (Monyet) yang menghamba pada Malin, si Beo mengikuti Malin merantau, sedangkan si Cerdik bersama ibu Malin. Singkat kata, sampailah kedua binatang dalam alur penting cerita. Berperanlah kedua binatang tersebut dengan meyakinkan bahwa Malin adalah anak sang Mak, ketika di bibir pantai mereka berdua (Beo dan Cerdik) bersua.

Kehadiran tokoh binatang sebagai tokoh sentral bukan hanya dalam VCD Malin Kundang, dalam VCD Sangkuriang dan Timun Mas pun hal tersebut terjadi. Dalam Sangkuriang, lahir tokoh kelinci dan ayam, sedangkan dalam Timun Mas, hadir tokoh tikus, monyet, dan kucing. Para fauna tersebut menduduki jabatan tinggi sebagai tokoh sentral yang menguak/memberi tahu perihal masalah yang muncul dalam cerita.

Secara umum, saya pun sependapat dengan tulisan Clara yang menyebutkan bahwa proses disney-fikasi merupakan penjajahan nyata terhadap cerita rakyat versi asli. Bahkan Clara mengutip kalimat Zipes (1979; 1995) yang menuduh disney-fikasi sebagai bentuk kolonialisasi versi asli cerita rakyat di berbagai daerah dan bangsa. Saya mengamininya, mengapa? Karena cerita rakyat merupakan warisan budaya masyarakat zaman dahulu yang bukan sekadar berbentuk cerita. Dalam setiap alur cerita, konteks, hingga hal-hal terkecil merupakan sesuatu yang bisa digali dan kaya akan makna serta petuah.

Pengubahan alur cerita secara besar-besaran dengan menghadirkan tokoh-tokoh binatang menjadi tokoh sentral, secara langsung ataupun tidak langsung meminimalisir hal-hal yang sebenarnya dianggap bernilai luhur. Cerita rakyat bahkan seringkali dianggap sebagai “sejarah” kolektif/folk history (Danandjaja, 66: 2007). Jadi bisa dibayangkan, jika cerita rakyat yang didekonstruksi dan kental akan pengaruh disney-fikasi akan serta merta mengubah sejarah kolektif tersebut.

Terlepas dari pengaruh negatif disney-fikasi dalam VCD animasi cerita-cerita rakyat, saya yakin ada di antara Anda yang berpendapat bahwa hal ini merupakan hal yang benilai positif bagi pelestarian cerita rakyat. Gambar-gambar menarik yang disajikan secara visual, membuat anak-anak tertarik menyaksikan cerita rakyat.

Kemasan cerita yang menarik, menggiring anak-anak untuk memasuki dunia yang disebut Clara “The Wonderful World of Disney”, sayangnya, anak-anak pun tanpa sadar, malah bersuka ria memasuki area Disney dalam cerita rakyat negaranya. Saya yakin, ini adalah politik pasar yang mengemas produk sesuai dengan selera segmentasi pasarnya. Salah?

Coba kita cek. Ini benar-benar pernah dialami oleh adik saya sendiri, Zidni, ketika usai menonton VCD animasi Timun Mas. Tanpa ditanya, tiba-tiba ia yang sebelumnya telah membaca cerita Timun Mas dari sebuah buku cerita berkata,

“ Lebih rame filmnya ya teh?”

“Kenapa?” jawab saya,

“Lucu, banyak binatangnya, di buku mah enggak ada”.

Ya, saya akui memang menarik. Animasi disney-fikasi membawa anak-anak belajar sambil bermain, sekali lagi belajar sambil bermain, bukan bermain sambil belajar.

Secanggih apapun teknologi, cerita rakyat tetap merupakan konsep yang terikat akan konteks dan nilai yang tidak bisa sembarang orang mengubah esensi nilainya. Meskipun tak bisa dimungkiri, animasi yang mengandung disney-fikasi lebih disukai anak-anak. Ketertarikan mau tidak mau harus mengalah di belakang keterikatan. Pilihan tersebut tentu tidak akan berlaku jika pemahaman, konnsep,  dan tujuan yang ingin dicapai berbeda: Pemilik pasar dan pemilik cerita (lisan).

Published in: on Desember 30, 2009 at 2:28 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://aldikarestupramuli.wordpress.com/2009/12/30/disney-fikasi-antara-ketertarikan-dan-keterikatan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: