Ciri-Ciri Mazhab Realisme Dalam Cerpen ‘Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota’ Karya Seno Gumira Ajidarma

PENDAHULUAN

Karya sastra adalah objek manusia, fakta manusia dan fakta kultural. Dengan demikian, karya sastra mempunyai keberadaan yang khas, yang membedakan dengan fakta manusia lainnya, seperti sistem ekonomi, sistem sosial, dan menyamakan dengan sistem kesenian lainnya (Dermawan dalam Laelasari, 1:2003). Oleh karena itu, penciptaan karya sastra selalu bersumber dari kenyataan-kenyataan hidup dalam masyarakat.

Berbicara karya sastra tak akan pernah lepas dari cerita pendek (cerpen) sebagai hasil karya sastra yang membicarakan gambaran sosial masyarakat dalam hubungannya dengan banyak hal. Sebagai genre sastra, cerpen mengangkat dunia sosial manusia dan masyarakat. Cerpen dapat dilihat sebagai cermin kejujuran untuk menggambarkan kembali dunia sosial manusia dalam hubungannya dengan keluarga, politik, ekonomi, dan negara. Selain itu, cerpen juga menggambarkan tentang bagaimana peran manusia dalam hubungan keluarga dengan institusi lain tentang kelas sosial (Esten, 1984:15). Cerpen dapat dikatakan sebagai dokumentasi ekonomi, politik, dan kondisi sosial masyarakat.

Cerpen-cerpen yang banyak membicarakan masalah sosial salah satunya adalah cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma (SGA). SGA adalah seorang cerpenis yang memilik keunikan gaya penulisan. SGA memiliki karakter sendiri jika dibandingkan dengan para seniornya yang juga merupakan generasi Horison, seperti Budi Darma, Danarto, atau Putu Wijaya. SGA menelurkan karya-karya dengan gagasan yang berkutat dari peristiwa-peristiwa yang bergerak wajar dan terjadi di sekeliling kita, baik dalam hal sosial, ekonomi, keluarga, agama, bahkan politik. Banyak cerpenis yang yang menulis sesuai dengan kondisi sosial politik yang terjadi di negeri ini sesuai dengan kenyataan. Perkembangan masalah kondisi sosial politik tersebut, bisa dilihat dari cerpen-cerpen SGA. Seno, bisa dikatakan mampu mengangkat tema-tema yang cukup berani. Mengingat pentingnya kedudukan SGA dalam khazanah sastra Indonesia, terutama karyanya yang kerap kali mengupas kenyataan, maka cerpen-cerpennya pun sangat penting untuk ditelaah.

TEORI

Cerita Pendek Indonesia

Perjalanan cerita pendek (selanjutnya disingkat cerpen) telah amat panjang. Cerpen menampakkan masa kejayaannya pada awal tahun 1940-an, dengan terbitnya majalah khusus cerpen (Rosidi, 1982:10). Tahun 1950-an, cerpen makin tumbuh subur dan bervariasi. Pada tahun tersebut, lahirlah cerpen Pramoedya Ananta Toer berjudul Subuh yang bercerita tentang perang dan penderitaan. Cerpen-cerpen karya sastrawan lain pun bermunculan, Orang-Orang Sial (Utuy T. Sontani), Jejak Langkah (Bakrie Siregar), dll. Tahun 1960-an lahir pula cerpen-cerpen baru yang didukung oleh tiga majalah budaya dan sastra, yaitu Horison, Sastra, dan Cerpen.

Keadaan cerpen Indonesia semakin subur dengan bertahannya Horison, surat kabar, dan majalah-najalah hiburan lainnya pada tahun 1970-an. Tahun 80-an pun demikian, Horison melahirkan seorang Budi Darma. Tahun 90-an, lahir pula lah para cerpenis muda, salah satunya Seno Gumira Ajidarma yang senantiasa memiliki gaya yang berbeda di setiap karyanya, tetapi cerpennya senantiasa menonjolkan kesusahan hidup.

Berdasarkan panjang pendeknya kata atau halaman, Tarigan (dalam Sidik, 13:2006) berkata bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 atau kira-kira 17 halaman kwarto dengan spasi rangkap. Yang menyebabkan pendeknya cerita dalam cerpen karena cerpen menyajikan masalah dengan singkat, padat, dan terkonsentrasi pasa suatu peristiwa.

Cerpen terdiri atas berbagai komponen yang mendukung keutuhannya. Cerpen yang merupakan genre sastra disusun oleh berbagai unsur yang berkaitan dan membentuk satu kesatuan. Unsur-unsur cerpen mencakup tema, plot, alur, setting, karakter, gaya cerita, dan sudut pandang pencerita (Sumardjo, 36:1980).

Mazhab Sastra

Mazhab/aliran tak lain adalah keyakinan yang dianut pengarang-pengarang sepaham, yang timbul karena menentang paham-paham lama. Ada kalanya, para penganut sebuah aliran yang sama tidak sepaham. Akan tetapi, pada dasarnya mereka tidak bertentangan dengan ciri-ciri dari karya yang mereka ciptakan (Hadimaja, 9:1972). Mazhab sastra terbagi menjadi empat aliran besar, yakni aliran klasik, romantik, realisme, dan modernisme.

Pada zaman klasik, karya sastra lebih bersifat rasional, sedangkan pada zaman romantisisme karya sastra disuguhkan dengan bahasa yang didominasi oleh perasaan. Pada zaman romantisisme lah, sastra dianggap sebagai hal yang agung oleh masyarakat. Romantisisme raib, seiring hadirnya realisme.

Realisme berusaha menggambarkan hidup dengan sejujur-jujurnya tanpa prasangka dan tanpa usaha memperindahnya. Realisme selalu memasukkan moral, dengan demikian seni bagi realisme adalah sarana untuk mengkritik dan menyampaikan pesan moral (Sumiyadi, 16:2008). Realisme menginginkan representasi dari realitas (menggambarkan realitas/kenyataan dalam kehidupan sehari-hari). Oleh sebab itu, realisme membahas kehidupan kontemporer (yang sedang berlangsung) dan tingkah laku manusia temporal (yang berpikir, bertindak, dan berperilaku dalam dunia sekarang ini). Untuk menggambarkan apa adanya, realisme memakai metode induktif dan bersifat observatif agar realitas yang digambarkan benar-benar objektif (dalam Sumiyadi, 19:2008). Jakob Sumardjo (1997) menyatakan bahwa realisme berarti mengarang yang dilihat, hanya melukiskan apa yang dilihat. Dalam realisme, kadang kala pendeskripsian unsur-unsur cerpen, seperti setting dideskripsikan secara gamblang dan amat teliti. Hal ini pernah dilakukan oleh Balzac dalam menggambarkan rumah makan Maison Vauquere (Hadimaja, 1972:84).

PENGARANG DAN KARYANYA

Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah lelaki yang dibesarkan di kota pelajar, Yogyakarta. Akan tetapi, ia sebenarnya tak lahir di permukaan tanah ibu pertiwi ini, ia lahir di sebuah negara bagian di negeri Paman Sam, Boston, pada 19 Juni 1958. Meskipun ia dilahirkan di negeri yang nun jauh di sana, Seno menghabiskan masa hidupnya di Indonesia, tak terkecuali dengan pendidikan. Dari Sekolah Dasar (SD) hingga jenjang Sekolah Menenagh Atas (SMA), pendidikan yang didudukinya semua berlokasi di Yogyakarta, kecuali pada jenjang Perguruan Tinggi (PT), yang diselesaikannya pada tahun 1994 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Dulu, ketika ia masih menghirup nafas Yogya, nama yang digunakannya adalah Mira Sato. Akan tetapi, semenjak ia melepas masa lajangnya pada tahun 1981, ia mulai memakai namanya sendiri. Seno adalah seseorang yang banyak menulis kritik, sajak, cerpen, esei yang banyak dimuat di berbagai media massa.

Seno adalah seorang sastrawan yang tak pernah terpaku pada satu bentuk pengucapan atau aliran tertentu, ia adalah seorang sastrawan yang cenderung berubah dan berkembang dalam setiap karya kreatifnya. Ia senantiasa menggunakan pola cerita konvensional, surealistik, romantik, dsb. Beberapa cerpennya menunjukkan kepedulia yang amat tinggi terhadap penindasan Hak Azasi Manusia (HAM). Apa yang ditulisnya dalam genre sastra adalah hal-hal yang tak mampu dituangkannya dalam jurnalistik. Tema-tema karya sastra yang diangkatnya seputar HAM, narasi puitik tentang derita, pembunuhan, dan kekacauan negara.

SGA menulis sejak tahun 1994 dan pernah bekerja sebagai wartawan pada usia 19 tahun. Ia pun telah menulis beberapa buku kumpulan puisi, diantaranya Mati Mati Mati (1975), Bayi Mati (1978), Dinamit dan Granat (1975), dan catatan-catatan Mira Sato (1978). Bahkan, salah satu kumpulan puisinya sempat ditransliterasi ke dalam oleh A. Teuw dalam Modern Indonesian Literature II.

Cerpen-cerpennya banyak dimuat di berbagai media massa, seperti “Sketsa yang dimuat di harian Berita Nasional pada tahun 1976, “Daun” dimuat di harian Masa Kini dan Majalah Sastra Horison, “Nyanyian Sepanjang Sungai” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam antologi Meneregie I (yayasan Lontar) dan Jurnal Internasional University Hawaii Manoa.

Antologi cerpennya yang telah terbit antara lain adalah Manusia Kamar (CV. Haji Masa Agung, 1988), Penembak Misterius (Pustaka Utama Grafi, 1993), Saksi Mata (Bentang Budaya, 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Subentra Citra Pustaka, 1995), Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta (Erlangga, 1995), Negeri Kabut (Rasindo, 1996), Iblis Tidak Pernah Mati (Galang Press, 1999), Atas Nama Malam (2000), Linguae (2008). Selain kumpulan cerpen, ia juga menulis kumpulan esei Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Ia pun menulis novel-novel, diantaranya Jazz, Parfum, dan Insiden, Negeri Senja, Kalatidha (Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Karya-karya Seno banyak menerima berbagai penghargaan, antara lain penulis cerpen terbaik 1992 (Pelajaran Mengarang) dari Kompas, Penghargaan Penulisan Karya Sastra 1995 (Saksi Mata), South East Asia Write Award 1997, Penghargaan penulisan karya sastra 1997 (Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi), Hadiah Sastra 1997 (Negeri Kabut), Antologi cerpen Saksi Mata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, “Eye Witness” menerima penghargaan Dinny O’ Hearn Prize For Literary Translation 1997,  Khatulistiwa Award (Kalatidha).

CIRI-CIRI MAZHAB REALISME DALAM CERPEN “MATINYA S EORANG WARTAWAN IBU KOTA” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

1) Tema yang Diangkat Tentang Moral

Cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota” berkisah tentang seorang Marselli, wartawan harian ibu kota yang sangat tangks, gesit, idealis, dan kritis. Saking idealisnya, ia tidak mempertimbangkan keselamatan nyawanya ketika akan menyelidiki sebuah kasus yang menyangkut nama besar seorang pejabat. Sang pemimpin redaksi, Jack Body telah meperingatkannya agar tidak melanjutkan reportase tentang kasus tersebut, tetapi karena naluri kejujuran Mars tinggi, ia tetap akan menyelidiki kasus tersebut. Di akhir cerita, ia dibunuh oleh bosnya sendiri. Lebih parahnya lagi, esok harinya berita kematian Mars dimuat di Sokpas dengan konten berita bahwa Marselli telah meninggal dunia karena serangan jantung.

Dari isi cerita tersebut, menampakkan bahwa cerpen ini mengangkat masalah sosial, di mana moral seseorang terbeli karena kedudukannya akan tersingkir, ia melakukan berbagai cara untuk bisa menghabisi lawan-lawanya, entah penyingkiran secara halus, ataupun penyingkiran berupa penghilangan nyawa lawannya.

Bila dianalisis dengan latar waktu, cerpen ini ditulis pada tahun 1981, saat itu Seno Gumira Ajidarma berprofesi sebagai wartawan. Tahun 1981, adalah bagian dari episode lakonnya orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Seperti telah diketahui pada umumnya, pada rezim orde baru berkuasa, kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat adalah salah satu hak yang benar-benar diisolasi dengan rapat. Jika ada segelintir orang yang berusaha melepas solasi tersebut, maka tak tanggung-tanggung kaki tangan orde baru akan segera “menumpas” dengan rapi orang-orang yang demikian. Isolasi tersebut bukan hanya berlaku bagi orang per orang saja, tetapi juga berlaku bagi semua lembaga yang berkedudukan di republik ini, termasuk media massa.

Pada saat itu, media mana pun yang mencoba “mencubit” pemerintah dan membuka kedok kebobrokan orde baru, akan dibredel dan diberangus habis. Banyak media-media yang saat itu menjadi korban, TEMPO salah satunya. Bahkan, orang per orang yang hidup di dalamnya dibuat demikian resah hidupnya dan beberapa orang dipenjara, dibuang, atau dibunuh secara diam-diam.

2) Kedekatan Kehidupan Pengarang Terhadap Isi Cerpen

Pramoedya Ananta Toer menuliskan kisah yang dialami dan dilihatnya ketika pembuangan melalui tetralogi Buru. Dalam cerpen ini pun ada indikasi yang menunjukkan  bahwa apa yang diceritakan oleh Seno Gumira Ajidarma adalah apa yang dirasakan atau dilihatnya sebagai seorang jurnalis saat itu. Ini menjadi salah satu sudut penilaian, bahwa yang diceritakan dalam cerpen ini tak lain adalah kenyataan yang pernah dilihat oleh penulis.

Masalah dibahas di atas dicoba diangkat oleh penulis dalam cerpen ini. Kenyataan yang terjadi di rezim orde baru ditulis oleh pengarang melalui sebuah fiksi. Kerealisan masalah yang diangkat sesuai dengan kenyataan pada zamannya, berupaya untuk menggambarkan kebobrokan moral para petinggi ini sesuai dengan apa yang tergaris dalam aliran realisme karena seni dalam realisme adalah sarana untuk mengkritik dan menyampaikan pesan moral.

3) Diksi dan Gaya Bahasa yang Digunakan Sangat Realis

Karya sastra bermazhab realisme senantiasa menggunakan gaya bahasa yang realis, tidak menonjolkan gaya bahasa yang mengagungkan keindahan dan perasaan. Bahasa disusun mengalir apa adanya, tidak seperti dalam romantik yang mengagungkan perasaan lewat diksi dan gaya bahasa. Begitu pun gaya bahasa yang digunakan Seno dalam cerpen ini. Dalam cerpen ini, gaya bahasa dan diksi disusun seperti mengalir apa adanya, tanpa menonjolkan hal-hal yang bersifat puitis. Dengan demikian, tidak dibutuhkan kefokusan yang ekstra pada pembaca ketika membacanya untuk dapat mengerti apa yang dituliskan. Tidak seperti dalam karya sastra yang bergaya romantik namun surealis yang juga pernah ditulis Seno seperti dalam novel “Negeri Senja”.

Gaya bahasa realis tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut,

“Wartawan muda itu bernama Marselli, umurnya 25 tahun, badannya kurus, beratnya Cuma 38 kilogram, namun tingginya 189 meter. Ia adalah reporter untuk berita-berita kriminal di koran Sokpas. Dulunya ia bagian film dan hiburan, tapi karena selalu banyak kritiknya terhadap film-film nasional, ia dipindahkan. Pemimpin redaksinya khawatir kalau tak ada lagi produser yang mau pasang iklan di korannya. Padahal, seperti kita ketahui bersama, tak ada koran yang bisa hidup tanpa iklan. Apalagi Sokpas baru seret pemasarannya, “ (Ajidarma, 2003:141).

Nampaklah dalam kutipan di atas, bahwa gaya bahasa dalam cerpen ini tidak begitu nyastra. Pembaca akan dengan sangat mudah memahami isi cerita tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu ciri realis yang terkandung dalam cerpen ini, karena seperti yang diketahui, dalam realisme gaya bahasa yang digunakan kadang kala diksi yang menonjolkan unsur-unsur puitik jarang digunakan.

4). Pendeskripsian Watak Tokoh Digambarkan dengan Jelas

Balzac sebagai seorang sastrawan yang dicap realis pernah dinilai bertele-tele dalam mendeskripsikan sesuatu dalam cerpennya. Hal ini juga coba dilukiskan oleh Seno dalam cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota”, di mana Seno melukiskan watak tokoh utama (Marselli) yang merupakan seorang wartawan kriminal yang gigih, gesit, dan menarik dalam menulis berita secara gamblang.

Penggambaran/pendeskripsian tersebut bahkan mungkin bisa disebut bertele-tele karena ia menghadirkan potongan-potongan berita yang ditulis oleh Marselli dalam format kolom koran. Seperti dalam dua kutipan berikut dalam Ajidarma, 2003:142,

DITEMUKAN MAYAT DALAM KARUNG
JAKARTA, Sokpas 17 oktober. Pada pagi hari kemarin, di tepi jalan raya menuju Karawang, seorang petani bernama Amat menemukan sesosok mayat di dalam karung. Waktu itu sedang berjalan lenggang kangkung sambil menikmati udara pagi, memanggul pacul dan mengisap rokok kawung. Tapi ia tiba-tiba terkejut melihat sepotong kaki mulus yang muncul dari dalam karung, tergolek di pinggir jalan. Ia segera melapor ke kantor polisi terdekat. Menurut sumber yang bisa dipercaya, mayat yang sudah tak bisa dikenali wajahnya itu adalah H, istri kedua haji S dari Bogor yang kini sedang bepergian ke luar negeri. Polisi mengatakan bahwa pengusutan akan dilakuan terus. (mars)
ARIFIN MENINGGAL DIBACOK G
JAKARTA, Sokpas 18 Oktober. Di kampung Trondolo RT 11/RW 009 terjadi perkelahian yang memakan korban jiwa. Arifin telah meninggal dibacok clurit oleh G. Adapun G kemudian melaporkan diri ke pihak yang berwajib. Menurut polisi, Arifin kepergok sedang mengagagahi N istri G. (mars)

Dalam cerpen ini, dimasukkan sembilan buah berita dengan motif pembunuhan yang berbeda-beda. Dengan penggambaran semacam ini, dapatlah diambil kesimpulan bahwa Marselli dalam cerpen ini diceritakan sebagai seorang wartawan yang ulet. Senang meliput berbagai kasus pembunuhan. Penggambaran yang secara gamblang dan realis ini pula lah, menjadi salah satu ciri realis yang terkandung dalam cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota”.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis terhadap cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota” dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa hal di dalam cerpen tersebut yang sesuai dengan ciri-ciri mazhab realisme. Ciri-ciri realisme yang nampak dalam cerpen tersebut antara lain adalah:

  1. Tema yang diangkat adalah tentang kebobrokan moral, jika ditelusuri alur waktunya sesuai dengan titimangsa penulisan. Jelas, cerpen ini menggambarkan bagaimana sulitnya kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat ketika orde baru duduk di singasana republik ini. Kekuatan yang lain yang menguatkan bahwa cerpen ini merupakan cerpen realis adalah kedekatan pengarang terhadap apa yang dituliskannya saat itu.
  2. Diksi dan gaya bahasa yang disajikan dalam cerpen tersebut tidak menonjolkan diksi dengan gaya puitik dan menonjolkan perasaan, melainkan gaya bahasa yang realis dan mengalir apa adanya.
  3. Pendeskripsian tokoh secara gamblang di dalam cerpen tersebut juga menggambarkan bahwa cerpen tersebut merupakan cerpen bercirikan mazhab realisme.

Published in: on Desember 30, 2009 at 2:22 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://aldikarestupramuli.wordpress.com/2009/12/30/ciri-ciri-mazhab-realisme-dalam-cerpen-%e2%80%98matinya-seorang-wartawan-ibu-kota%e2%80%99-karya-seno-gumira-ajidarma/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: