AMAZING!

“Cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati

Terkembang dalam kata…”

Sepenggal kata-kata tersebut saya terima dari seorang Holid. Kertas putih kosong yang baru saja saya berikan kepadanya beberapa menit yang lalu, telah terisi rangkaian kata-kata puitis. “AMAZING”, hebat, dahsyat, saya terpukau, saya terharu, sungguh. Anak seusia Holid yang notabene mesti hidup di hotel prodeo, bersemangat dan mampu merangkai kata-kata sepuitis itu.

Yang ditulis Holid bukan hanya sebuah puisi, ia juga menulis puisi-puisi lain di atas selembar kertas yang ia mintai kepada saya ketika puisi pertamanya rampung. “Wahai ukhti, engkaulah lapaz-lapaz hati….”, sampai di sini saya tak mampu bercakap lagi.

Keamazingan bukan hanya ditunjukkan Holid, tapi semua, seluruh siswa kelas musik Rumah Tahanan (Rutan) Anak Kebon Waru. Mereka semua sangat bersemangat ketika saya persilakan memperkenalkan diri tanpa bersuara. Mereka berekspresi, menelurkan langkah yang merupakan representasi dari sebuah ide yang cemerlang. Ada Toni yang memperkenalkan namanya lewat sebuah sobekan kertas yang ia tulisi “TONI”, ada Angga yang menggerakkan jemari tangannya menggambarkan rangkaian huruf yang menjadi pondasi nama besar yang disandangnya sedari kecil, dan ada pula Agus yang dengan manyun-manyun menggerakkan mulutnya, berusaha dengan susah payah untuk memberitahukan namanya pada kami. Cerdas.

Apa yang saya lihat dan rasakan saat baru beberapa menit berkomunikasi langsung dengan mereka, kontan memupus apa yang saya bayangkan sebelumnya. Dalam pikiran saya yang masih hampa, beberapa minggu bahkan di depan pintu rutan hari Kamis itu, yang saya bayangkan mereka adalah anak-anak yang nakal, menyebalkan, sulit diatur, dan menyeramkan karena badannya dipenuhi tatoo bak preman terminal. Ya, meskipun ada beberapa orang dari mereka bertato, tapi hati mereka, sikap mereka, sangat ramah. Hati mereka tak seperti apa yang saya bayangkan, mereka remaja yang bisa bertutur lembut, baik bertutur lisan maupun tulisan. Buktinya, Holid, Agus, Aditya, Kiki, Heri, Oky, Agus, dan Santana, adalah anak-anak yang mau belajar merangkaikan kata-kata halus, menguraikan apa yang mereka pikirkan.

Ini Amazing, sungguh di luar apa yang saya pikirkan. Saya berterimakasih kepada mereka. Anak-anak yang walaupun berwajah kusam dan kumal, mau dan semangat untuk belajar menulis.

Sebelum kelas usai, kami membentuk lingkaran tak beraturan, menyanyi bersama, dari lagu pop jaman jadul, hingga dangdut masa kini. Agus yang terbilang paling cucok di antara mereka, lihai memainkan si alat petik. Semua pun bernyanyi.

Pukul 12 siang, kelas usai, seorang Holid mendekati saya,

Teh, boleh minta kertas nggak?”

“ Buat apa?”, jawab saya

Pengen nulis puisi, tapi buat di sel, entar hari Kamis, aku kasih ke Teteh puisinya. Ingin seperti Pramoedya Ananta Toer”.

Ahh… rupanya anak-anak itu telah banyak belajar tentang kehidupan. Di balik segala keterbatasan, mereka masih mau berusaha untuk menulis, untuk belajar, untuk berkarya. Yang mungkin berbeda dengan kita, di balik segala kesempatan dan kemudahan, kita lantas bermalas-malasan dan tidak pernah banyak berpikir tentang arti hidup. Sungguh, mereka, amazing.

Bandung, Maret 2009

Published in: on Desember 30, 2009 at 2:31 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

DISNEY-FIKASI: ANTARA KETERTARIKAN DAN KETERIKATAN

“Terus Sangkuriangnya dipenjara nggak, bu?”

“Sangkuriang nggak dipenjara, tapi dia dihukum oleh ibunya”

“Oh, zaman dulu belum ada penjara ya, bu?

“Iya, tapi setiap ada yang melakukan kesalahan pasti dihukum. Eneng bobo sekarang ya, besok kita terusin lagi ceritanya.”

Itulah penggalan percakapan antara saya dan ibu saya, di suatu malam 17 Agustus 14 tahun lalu, hari di mana saya berulang tahun dan ibu mengahdiahi saya sebuah buku dongeng nusantara. Meskipun sudah menginjak usia tujuh tahun, tapi ritual dongeng sebelum tidur belum juga luntur. Lewat ritual itulah, saya berkenalan dengan Malin Kundang, Timun Mas dan Buto Ijo, Ciung Wanara, Bawang Merah dan Bawang Putih, juga Sangkuriang lewat lisan sang ibu.

Ya, tapi itu dulu, dulu sekali, dulu saat kumpulan ceritanya masih dikemas dalam lay out yang pas-pasan. Sekarang, adik-adik saya, tak perlu menunggu waktu tidur untuk berkenalan dengan para tokoh legenda nusantara tersebut. Mereka tinggal memegang remot sembari duduk manis di depan layar kaca yang tengah menyajikan gambar dari sebuah DVD atau VCD. Alhasil, wajah-wajah mereka pun muncul.

Memang tak bisa dimungkiri, kemajuan teknologi akhirnya mau tidak mau menggiring manusianya untuk terus bertransformasi. Semua aspek digiring untuk melewati gerbang tranformasi, begitu pun cerita rakyat. Hingga akhirnya cerita rakyat hidup dalam beberapa bentuk, bentuk lisan, bentuk tulis, dan kini telah hadir cerita rakyat berwujud audio-visual.

Semestinya kita turut bersukacita, karena ketika budaya sastra lisan kian tergerus zaman, generasi-generasi muda masih bisa mengenal Malin Kundang dan kawan-kawan, melalui sebuah teknologi audio-visual dalam bentuk kepingan Cassette Disc (CD). Tetapi, bagaimanakah esensi cerita yang disajikan? Sesuaikah dengan versi cerita asli?

Clara Evi Citraningtyas dalam penelitiannya yang berjudul “Mengemas Malin Kundang dalam VCD: Urbanisasi Cerita Rakyat” berpendapat bahwa hal yang paling mencolok adalah pengaruh disney-fikasi. Dalam VCD Malin Kundang, hadir tokoh-tokoh binatang yang dapat berkomunikasi dengan manusia, bahkan kehadiran tokoh-tokoh binatang tersebut menjadi pemeran yang berperan penting dalam alur cerita. Dikisahkanlah si Beo (burung Beo) dan si Cerdik (Monyet) yang menghamba pada Malin, si Beo mengikuti Malin merantau, sedangkan si Cerdik bersama ibu Malin. Singkat kata, sampailah kedua binatang dalam alur penting cerita. Berperanlah kedua binatang tersebut dengan meyakinkan bahwa Malin adalah anak sang Mak, ketika di bibir pantai mereka berdua (Beo dan Cerdik) bersua.

Kehadiran tokoh binatang sebagai tokoh sentral bukan hanya dalam VCD Malin Kundang, dalam VCD Sangkuriang dan Timun Mas pun hal tersebut terjadi. Dalam Sangkuriang, lahir tokoh kelinci dan ayam, sedangkan dalam Timun Mas, hadir tokoh tikus, monyet, dan kucing. Para fauna tersebut menduduki jabatan tinggi sebagai tokoh sentral yang menguak/memberi tahu perihal masalah yang muncul dalam cerita.

Secara umum, saya pun sependapat dengan tulisan Clara yang menyebutkan bahwa proses disney-fikasi merupakan penjajahan nyata terhadap cerita rakyat versi asli. Bahkan Clara mengutip kalimat Zipes (1979; 1995) yang menuduh disney-fikasi sebagai bentuk kolonialisasi versi asli cerita rakyat di berbagai daerah dan bangsa. Saya mengamininya, mengapa? Karena cerita rakyat merupakan warisan budaya masyarakat zaman dahulu yang bukan sekadar berbentuk cerita. Dalam setiap alur cerita, konteks, hingga hal-hal terkecil merupakan sesuatu yang bisa digali dan kaya akan makna serta petuah.

Pengubahan alur cerita secara besar-besaran dengan menghadirkan tokoh-tokoh binatang menjadi tokoh sentral, secara langsung ataupun tidak langsung meminimalisir hal-hal yang sebenarnya dianggap bernilai luhur. Cerita rakyat bahkan seringkali dianggap sebagai “sejarah” kolektif/folk history (Danandjaja, 66: 2007). Jadi bisa dibayangkan, jika cerita rakyat yang didekonstruksi dan kental akan pengaruh disney-fikasi akan serta merta mengubah sejarah kolektif tersebut.

Terlepas dari pengaruh negatif disney-fikasi dalam VCD animasi cerita-cerita rakyat, saya yakin ada di antara Anda yang berpendapat bahwa hal ini merupakan hal yang benilai positif bagi pelestarian cerita rakyat. Gambar-gambar menarik yang disajikan secara visual, membuat anak-anak tertarik menyaksikan cerita rakyat.

Kemasan cerita yang menarik, menggiring anak-anak untuk memasuki dunia yang disebut Clara “The Wonderful World of Disney”, sayangnya, anak-anak pun tanpa sadar, malah bersuka ria memasuki area Disney dalam cerita rakyat negaranya. Saya yakin, ini adalah politik pasar yang mengemas produk sesuai dengan selera segmentasi pasarnya. Salah?

Coba kita cek. Ini benar-benar pernah dialami oleh adik saya sendiri, Zidni, ketika usai menonton VCD animasi Timun Mas. Tanpa ditanya, tiba-tiba ia yang sebelumnya telah membaca cerita Timun Mas dari sebuah buku cerita berkata,

“ Lebih rame filmnya ya teh?”

“Kenapa?” jawab saya,

“Lucu, banyak binatangnya, di buku mah enggak ada”.

Ya, saya akui memang menarik. Animasi disney-fikasi membawa anak-anak belajar sambil bermain, sekali lagi belajar sambil bermain, bukan bermain sambil belajar.

Secanggih apapun teknologi, cerita rakyat tetap merupakan konsep yang terikat akan konteks dan nilai yang tidak bisa sembarang orang mengubah esensi nilainya. Meskipun tak bisa dimungkiri, animasi yang mengandung disney-fikasi lebih disukai anak-anak. Ketertarikan mau tidak mau harus mengalah di belakang keterikatan. Pilihan tersebut tentu tidak akan berlaku jika pemahaman, konnsep,  dan tujuan yang ingin dicapai berbeda: Pemilik pasar dan pemilik cerita (lisan).

Published in: on Desember 30, 2009 at 2:28 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

SEJARAH PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA

Periodisasi perkembangan sastra Indonesia

  1. Menurut Nugroho Notosusanto
  1. Sastra melayu lama
    1. masa kebangkitan (1920-1945)
    2. Masa perkembangan (1945 s.d. sekarang)
    1. Sastra modern

# masa kebangkitan terdiri atas tiga periode:

  1. periode 20
  2. periode 33
  3. periode 42

# masa perkembangan

  1. periode 45
  2. periode 50

2        Menurut HB Jassin

a    Sastra Melayu lama

  1. Sastra Melayu modern
  2. angkatan 20
  3. angkatan 33
  4. angkatan 45
  5. angkatan 66

3        Menurut Ajip Rosidi

a    Masa kelahiran (1900-1945)

  1. Periode awal s.d. 1933
  2. Periode 1933-1942
  3. Periode 1942-1945

b    Masa Perkembangan (1945- sekarang)

  1. Periode 1945-1953
  2. Periode 1953-1961
  3. Periode 1961-sekarang
  1. Menurut Rachmat Djoko Pradopo

1. Periode Balai Pustaka     : 1920-1940

2. Periode Pujangga Baru   : 1930-1945

3. Periode angkatan 45       : 1940-1955

4. Periode angkatan 50       : 1950-1970

5. Periode angkatan 70       : 1965-1984

# Karakteristik Kesusastraan Balai Pustaka

Pada tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan lembaga bacaan rakyat yang bernama volkslectuur. Pada tahun 1917 volkslectuur diubah namanya menjadi Balai Pustaka yang para redakturnya terdiri atas penulis dan ahli bahasa melayu.

Naskah-naskah Balai Pustaka memiliki syarat-syarat sebagai berikut.

  1. Karangan jangan mengandung unsur yang menentang pemerintah
  2. Karangan tidak boleh menyinggung perasaan golongan tertentu dalam masyarakat
  3. Karangan jangan menyinggung seseorang penganut agama.

Angkatan Balai Pustaka banyak menghasilkan karya sastra berupa roman, saduran dan terjemahan hasil karya pujangga asing ternama. Pada fase-fase terakhirnya, barulah Balai Pustaka menerbitkan naskah-naskah pengarang muda Indonesia baik prosa maupun puisi, meskipun jumlahnya sedikit.

# Karakteristik kesusastraan Angkatan Pujangga Baru

Masa angkatan Pujangga Baru dimulai dengan terbitnya majalah pujangga baru, pada bulan Mei 1933. Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai pujangga baru, yakni Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sebenarnya angakatan pujangga baru sangat dipengaruhi oleh pujangga Belanda angkatan 1880, karena pada zaman tersebut banyak pemuda Indonesia yang berpendidikan barat.

Sifat kesusastraan angkatan pujangga baru:

  1. Dinamis
  2. Bercorak romantis-idealistis, aktif-romantik.
  3. Bahasanya mempergunakan bahasa Melayu yang lebih modern.
  4. Ciri-ciri bentuk kesusastraan angkatan pujangga baru:
    1. a.    Puisi

Yang memegang peranan penting adalah sonata. Sajak, jumlah suku kata dan   syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi.

b.   Prosa

Yang memegang peranan penting adalah roman, yang menceritakan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan.

  1. c.    Drama

Drama pada angkatan pujangga baru bertema kesadaran nasional.

# Karakteristik Angkatan 1945

Yang memberi nama Angkatan ’45 ialah Rosihan Anwar dalam majalah Siasat tahun 1949. Pelopor puisi angkatan 45 adalah Chairil Anwar, sedangkan prosanya adalah Idrus.

Angkatan 45 dipengaruhi oleh Marsman, Schlauerhoff, seperti yang terlihat pada sajak-sajak Chairil Anwar yang dipengaruhi oleh pujangga-pujangga dunia.

Ciri-ciri karya angkatan 45:

  1. Sajak: berisi akibat dari peperangan dan perjuangan dunia
  2. Novel: lebih banyak menghasilkan daripada roman
  3. Drama: menceritakan tentang keadaan setelah perang
  4. Cerpen: isinya menggambarkan peri-kehidupan manusia

# Karakteristik Angkatan ‘50

Pada tahun-tahun yang lalu belum ada penegasan tentang adanya angkatan ’50. H.B. Jasin belum menyebutkan Angkatan ’50, sedangkan Slamet Muljono berpendapat bahwa sastrawan Angkatan ’50 hanyalah pelanjut (successor) saja, karena beliau menganggap bahwa sastra Indonesia lahir pada tahun 1945 (Indonesia Merdeka). Karakteristik yang menonjol pada angkatan ini adalah sebagai berikut.

  1. Berisi kebebasan sastrawan yang lebih luas di atas kebiasaan (tradisi) yang diletakan pada tahun 1945.
  2. Masa ’50 memberikan pernyataan tentang aspirasi (tujuan yang terakhir dicapai) nasinal lebih jauh.
  3. pusat kegiatan sastra makin banyak jumlahnya (tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia), selain berpusat di jakarta dan jogyakarta.
  4. menunjukan sastra nasional Indonesia yang ditunjukan dalam puisi yang bertema kebudayaan daerah.
  5. keindahan puisi sudah dimulai didasarkan pada peleburan (kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing dengan perasaan dan ukuran nasional.

Periode ’50 bukan hanya pengekor (epigon) angkatan ’45, angkatan ini juga merupakan survival. Pada tahun 1950-an, terdapat beberapa peristiwa-peristiwa yang menggoncangkan negeri yang juga berekses buruk terhadap perkembangan sastra Indonesia saat itu. Sastrwan-sastrawan periode ini antara lain Ajip Rosidi, Toto Sukarto Bachtiar, Ramadhan K.H., Nugroho Notosusasnto, Trisnojuwono.

# Karakteristik Angkatan ‘66

Generasi ’66, yaitu suatu generasi baru yang melakukan pendobrakan terhadap penyelewengan besar-besaran yang membawa negara ke jurang kehancuran. Pada tahun 1966 terjadi suatu ledakan pemberontakan dari penyair, pengarang dan cendekiawan yang telah sekian lama  dijajah jiwanya oleh semboyan-semboyan atau slogan-slogan yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.  Tugas angkatan ’66, ialah membela Pancasila dan menjaga jangan sampai timbul lagi tirani, demi mengisi revolusi guna mencapai soisalisme Indonesia. Dapatlah dicatat nama-nama: Ajip Rosidi, Rendra, Goenawan Mohammad, Taufiq Ismail, A A.Navis, Idris.

# Karakteristik Angkatan ‘80

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyak bermunculannya roman percintaan. Banyak sastrawan wanita yang lahir pada angkatan ini, salah satunya adalah Marga T. dan Mira W.  Mereka adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis. Majalah Horison tidak ada lagi, karya sastra Indonesia pada angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar membaca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih “berat”.

# Karakteristik Angkatan Reformasi

Seiring terjadi pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang sastrawan reformasi. Munculnya angakatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antalogi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan angkatan reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya orde baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra puisi, cerpen dan novel pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

# Sastrawan Angkatan 2000-an

Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya sastrawan angakatan 2000. Sebuah buku tebal tentang angkatan 2000 yang disusun dan diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukan Korrie ke dalam angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir tahun 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rose Herliany.

SEJARAH PERKEMBANGAN PUISI INDONESIA

  1. 1. Puisi Lama

Puisi lama merupakan pancaran masyarakat lama. Adapun ciri-ciri puisi lama, yaitu:

  1. merupakan puisi rakyat
  2. Pengarangnya anonim (tak dikenal)
  3. Puisi lama umumnya disampaikan dari mulut ke mulut (kesusastraan lisan)
  4. Terikat oleh syarat-syarat mutlak (bait, suku kata) dan tradisionil

Bentuk puisi lama adalah mantera, bidal, pantun, talibun, seloka.

  1. 2. Puisi Baru

Puisi baru merupakan pancaran masyarakat baru, yang banyak dihasilkan oleh sastrawan balai pustaka dan pujangga baru. Bahasanya sudah kurang kemelayu-melayuan sedangkan isinya sebagai jelmaan cita-rasa pengubahnya.

Macam-macam puisi baru antara lain, yaitu:

  1. Distichon (sajak dua seuntai)
  2. Terzina (Sajak 3 seuntai)
  3. Quatrain (sajak 4 seuntai)
  4. Quint (Sajak 5 seuntai)
  5. Sextet (sajak 6 seuntai)
  6. Septima (sajak 7 seuntai)
  7. Stanza/octav (sajak 8 seuntai)
  8. Soneta

Puisi baru banyak menghasilkan puisi berbentuk soneta. Seperti Gembala (M. Yamin), candi (Sanusi Pane).

  1. 3. Puisi zaman Jepang

Datangnya Jepang di Indonesia, sunnguh mengejutkan. Mereka menjanjikan kemerdekaan, kemakmuran dan kebahagiaan kepada bangsa Indonesia, Janji-janji dan semboyan Jepang sungguh mengagumkan dan mengikat hati bangsa Indonesia, sehingga banyak yang tertipu olehnya termasuk para penyair dan pengarang yang mengajak dan menganjurkan agar membantu, bahkan mengabdi perjuangan Dai Nippon.

Para pujangga yang bernafaskan nasional ketuhanan senanyiasa mengajak agar bangsa indonesia turut berjuang disamping Dai Nippon demi kepentingan bangsa sehinnga terlahirlah puisi-puisi yang yang bertemakan perjuangan, salah satunya adalah puisi yang berjudul “kita Berjuang”.

Setelah jepang mengingkari janjinya, bangsa Indonesia tak percaya lagi pada Jepang bahkan dendam, untuk menonjolkan perasaan demikian, mereka takut. Akhirnya banyaklah pujangga mencari jalan keluar, agar buah penanya dapat lolos dari sensor Jepang yang dijalankan oleh keimin bunkha shidosa. Mereka menciptakan buah karyanya yang bersifat simbolik, seperti Maria Amin dalam puisinya “Kapal Udara”.

Penderitaan yang luar biasa, lazimnya mendekatkan manusia kepada Tuhan itulah sebabnya banyak oujangga yang tidak puas akan kenyataan, lari kedunia suka cita atau romantik seperti tampak pada buah pena Amal hamzah,

Bukti pelariannya ia menterjemahkan Gitanyali serta buah pena Rabindranath Tagore lainnya yang dikumpulkan “Seroja dari gangga”.

Kemudian para pemimpin Indonesia menyadari, bekerja berjuang dengan Nippon itu harus lebih ditunjukan demi kepentingan nusa-bangsanya sendiri, seperti isi puisi Rosihan Anwar yang berkepala “Kisah diwaktu pagi” dan “lukisan”.

Tidak bisa kita elakan pada waktu  itu lahir seorang penyair yang sangat terkenal, yakni Chairil Anwar. Ia penyair realistis_individualistis. Serta sastrawan-sastrawan lain antara lain: Annas ma’ruf, Bung Usman, Azahar munir sjamsul, dan Nursjamsu.

  1. Puisi Modern ( Angkatan ‘45)

Setelah Indonesia merdeka, hilanglah tabir penghalang atau tabir pengekang jiwa dan cita-cita bangsa Indonesia. Selain menciptakan kemerdekaan bangsa dan tanah air, menelurkan pula jiwa yang bebas dinamis dan realistis, revolusioner serta memancarkan seni-sastra yang bernafaskan irama ’45 pula.

Pada puisi angkatan ’45 bukanlah rima bukan pula bentuk yang diutamakan, melainkan isi yang ditonjolkannya. Kalau perlu bahasanya pun harus tunduk pada isi yang merupakan perwujudan cita-cita.

Chairil Anwar seorang pelopor penyair angkatan ’45, memproklamirkan jiwanya yang individualistis lewat puisinya “AKU” dan sebuah puisi yang merupakan peringatan yang perlu diperhatikan adalah “Ceritera buat dien Tamaela” nafas-nafas ke-Tuhanan Chairil Anwar dapat kita rasakan dalam puisinya Do’a dan Isa. Indonesia memasuki dunia baru dalam gelanggang seni sastra, menandakan larirnya angkatan baru yang lazim dengan sebutan angkatan muda, tapi pada tahun 1949 Rosihan Anwar memberi nama baru yang lebih populer lagi yaitu Angkatan ’45.

Jejak langkah pelopor penyair angkatan ’45 diikuti dan diteruskan oleh para pengikutnya dua orang rekan Chairil Anwar yakni, Riva’i Arivin dan Asrul San. Ketiganya merupakan “tri tunggal penyair angkatan ‘45” sebagai buktinya melalui karyanya “Tiga Menguak Takdir” kumpulan puisi buah pena mereka.

Umar Ismail, ali talim, Mahatmanto, dan bBahrum Rangkuti merupakan penyair angkatan ’45 yang relijius. Pada angkatan ’45 juga terdapat sastrawan perempuan, yaitu Maria Amin, Nursjamsu, Walujati, Samiati Alisjahbana, dan Rukiah.

Published in: on Desember 30, 2009 at 2:25 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ciri-Ciri Mazhab Realisme Dalam Cerpen ‘Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota’ Karya Seno Gumira Ajidarma

PENDAHULUAN

Karya sastra adalah objek manusia, fakta manusia dan fakta kultural. Dengan demikian, karya sastra mempunyai keberadaan yang khas, yang membedakan dengan fakta manusia lainnya, seperti sistem ekonomi, sistem sosial, dan menyamakan dengan sistem kesenian lainnya (Dermawan dalam Laelasari, 1:2003). Oleh karena itu, penciptaan karya sastra selalu bersumber dari kenyataan-kenyataan hidup dalam masyarakat.

Berbicara karya sastra tak akan pernah lepas dari cerita pendek (cerpen) sebagai hasil karya sastra yang membicarakan gambaran sosial masyarakat dalam hubungannya dengan banyak hal. Sebagai genre sastra, cerpen mengangkat dunia sosial manusia dan masyarakat. Cerpen dapat dilihat sebagai cermin kejujuran untuk menggambarkan kembali dunia sosial manusia dalam hubungannya dengan keluarga, politik, ekonomi, dan negara. Selain itu, cerpen juga menggambarkan tentang bagaimana peran manusia dalam hubungan keluarga dengan institusi lain tentang kelas sosial (Esten, 1984:15). Cerpen dapat dikatakan sebagai dokumentasi ekonomi, politik, dan kondisi sosial masyarakat.

Cerpen-cerpen yang banyak membicarakan masalah sosial salah satunya adalah cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma (SGA). SGA adalah seorang cerpenis yang memilik keunikan gaya penulisan. SGA memiliki karakter sendiri jika dibandingkan dengan para seniornya yang juga merupakan generasi Horison, seperti Budi Darma, Danarto, atau Putu Wijaya. SGA menelurkan karya-karya dengan gagasan yang berkutat dari peristiwa-peristiwa yang bergerak wajar dan terjadi di sekeliling kita, baik dalam hal sosial, ekonomi, keluarga, agama, bahkan politik. Banyak cerpenis yang yang menulis sesuai dengan kondisi sosial politik yang terjadi di negeri ini sesuai dengan kenyataan. Perkembangan masalah kondisi sosial politik tersebut, bisa dilihat dari cerpen-cerpen SGA. Seno, bisa dikatakan mampu mengangkat tema-tema yang cukup berani. Mengingat pentingnya kedudukan SGA dalam khazanah sastra Indonesia, terutama karyanya yang kerap kali mengupas kenyataan, maka cerpen-cerpennya pun sangat penting untuk ditelaah.

TEORI

Cerita Pendek Indonesia

Perjalanan cerita pendek (selanjutnya disingkat cerpen) telah amat panjang. Cerpen menampakkan masa kejayaannya pada awal tahun 1940-an, dengan terbitnya majalah khusus cerpen (Rosidi, 1982:10). Tahun 1950-an, cerpen makin tumbuh subur dan bervariasi. Pada tahun tersebut, lahirlah cerpen Pramoedya Ananta Toer berjudul Subuh yang bercerita tentang perang dan penderitaan. Cerpen-cerpen karya sastrawan lain pun bermunculan, Orang-Orang Sial (Utuy T. Sontani), Jejak Langkah (Bakrie Siregar), dll. Tahun 1960-an lahir pula cerpen-cerpen baru yang didukung oleh tiga majalah budaya dan sastra, yaitu Horison, Sastra, dan Cerpen.

Keadaan cerpen Indonesia semakin subur dengan bertahannya Horison, surat kabar, dan majalah-najalah hiburan lainnya pada tahun 1970-an. Tahun 80-an pun demikian, Horison melahirkan seorang Budi Darma. Tahun 90-an, lahir pula lah para cerpenis muda, salah satunya Seno Gumira Ajidarma yang senantiasa memiliki gaya yang berbeda di setiap karyanya, tetapi cerpennya senantiasa menonjolkan kesusahan hidup.

Berdasarkan panjang pendeknya kata atau halaman, Tarigan (dalam Sidik, 13:2006) berkata bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 atau kira-kira 17 halaman kwarto dengan spasi rangkap. Yang menyebabkan pendeknya cerita dalam cerpen karena cerpen menyajikan masalah dengan singkat, padat, dan terkonsentrasi pasa suatu peristiwa.

Cerpen terdiri atas berbagai komponen yang mendukung keutuhannya. Cerpen yang merupakan genre sastra disusun oleh berbagai unsur yang berkaitan dan membentuk satu kesatuan. Unsur-unsur cerpen mencakup tema, plot, alur, setting, karakter, gaya cerita, dan sudut pandang pencerita (Sumardjo, 36:1980).

Mazhab Sastra

Mazhab/aliran tak lain adalah keyakinan yang dianut pengarang-pengarang sepaham, yang timbul karena menentang paham-paham lama. Ada kalanya, para penganut sebuah aliran yang sama tidak sepaham. Akan tetapi, pada dasarnya mereka tidak bertentangan dengan ciri-ciri dari karya yang mereka ciptakan (Hadimaja, 9:1972). Mazhab sastra terbagi menjadi empat aliran besar, yakni aliran klasik, romantik, realisme, dan modernisme.

Pada zaman klasik, karya sastra lebih bersifat rasional, sedangkan pada zaman romantisisme karya sastra disuguhkan dengan bahasa yang didominasi oleh perasaan. Pada zaman romantisisme lah, sastra dianggap sebagai hal yang agung oleh masyarakat. Romantisisme raib, seiring hadirnya realisme.

Realisme berusaha menggambarkan hidup dengan sejujur-jujurnya tanpa prasangka dan tanpa usaha memperindahnya. Realisme selalu memasukkan moral, dengan demikian seni bagi realisme adalah sarana untuk mengkritik dan menyampaikan pesan moral (Sumiyadi, 16:2008). Realisme menginginkan representasi dari realitas (menggambarkan realitas/kenyataan dalam kehidupan sehari-hari). Oleh sebab itu, realisme membahas kehidupan kontemporer (yang sedang berlangsung) dan tingkah laku manusia temporal (yang berpikir, bertindak, dan berperilaku dalam dunia sekarang ini). Untuk menggambarkan apa adanya, realisme memakai metode induktif dan bersifat observatif agar realitas yang digambarkan benar-benar objektif (dalam Sumiyadi, 19:2008). Jakob Sumardjo (1997) menyatakan bahwa realisme berarti mengarang yang dilihat, hanya melukiskan apa yang dilihat. Dalam realisme, kadang kala pendeskripsian unsur-unsur cerpen, seperti setting dideskripsikan secara gamblang dan amat teliti. Hal ini pernah dilakukan oleh Balzac dalam menggambarkan rumah makan Maison Vauquere (Hadimaja, 1972:84).

PENGARANG DAN KARYANYA

Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah lelaki yang dibesarkan di kota pelajar, Yogyakarta. Akan tetapi, ia sebenarnya tak lahir di permukaan tanah ibu pertiwi ini, ia lahir di sebuah negara bagian di negeri Paman Sam, Boston, pada 19 Juni 1958. Meskipun ia dilahirkan di negeri yang nun jauh di sana, Seno menghabiskan masa hidupnya di Indonesia, tak terkecuali dengan pendidikan. Dari Sekolah Dasar (SD) hingga jenjang Sekolah Menenagh Atas (SMA), pendidikan yang didudukinya semua berlokasi di Yogyakarta, kecuali pada jenjang Perguruan Tinggi (PT), yang diselesaikannya pada tahun 1994 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Dulu, ketika ia masih menghirup nafas Yogya, nama yang digunakannya adalah Mira Sato. Akan tetapi, semenjak ia melepas masa lajangnya pada tahun 1981, ia mulai memakai namanya sendiri. Seno adalah seseorang yang banyak menulis kritik, sajak, cerpen, esei yang banyak dimuat di berbagai media massa.

Seno adalah seorang sastrawan yang tak pernah terpaku pada satu bentuk pengucapan atau aliran tertentu, ia adalah seorang sastrawan yang cenderung berubah dan berkembang dalam setiap karya kreatifnya. Ia senantiasa menggunakan pola cerita konvensional, surealistik, romantik, dsb. Beberapa cerpennya menunjukkan kepedulia yang amat tinggi terhadap penindasan Hak Azasi Manusia (HAM). Apa yang ditulisnya dalam genre sastra adalah hal-hal yang tak mampu dituangkannya dalam jurnalistik. Tema-tema karya sastra yang diangkatnya seputar HAM, narasi puitik tentang derita, pembunuhan, dan kekacauan negara.

SGA menulis sejak tahun 1994 dan pernah bekerja sebagai wartawan pada usia 19 tahun. Ia pun telah menulis beberapa buku kumpulan puisi, diantaranya Mati Mati Mati (1975), Bayi Mati (1978), Dinamit dan Granat (1975), dan catatan-catatan Mira Sato (1978). Bahkan, salah satu kumpulan puisinya sempat ditransliterasi ke dalam oleh A. Teuw dalam Modern Indonesian Literature II.

Cerpen-cerpennya banyak dimuat di berbagai media massa, seperti “Sketsa yang dimuat di harian Berita Nasional pada tahun 1976, “Daun” dimuat di harian Masa Kini dan Majalah Sastra Horison, “Nyanyian Sepanjang Sungai” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam antologi Meneregie I (yayasan Lontar) dan Jurnal Internasional University Hawaii Manoa.

Antologi cerpennya yang telah terbit antara lain adalah Manusia Kamar (CV. Haji Masa Agung, 1988), Penembak Misterius (Pustaka Utama Grafi, 1993), Saksi Mata (Bentang Budaya, 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Subentra Citra Pustaka, 1995), Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta (Erlangga, 1995), Negeri Kabut (Rasindo, 1996), Iblis Tidak Pernah Mati (Galang Press, 1999), Atas Nama Malam (2000), Linguae (2008). Selain kumpulan cerpen, ia juga menulis kumpulan esei Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Ia pun menulis novel-novel, diantaranya Jazz, Parfum, dan Insiden, Negeri Senja, Kalatidha (Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Karya-karya Seno banyak menerima berbagai penghargaan, antara lain penulis cerpen terbaik 1992 (Pelajaran Mengarang) dari Kompas, Penghargaan Penulisan Karya Sastra 1995 (Saksi Mata), South East Asia Write Award 1997, Penghargaan penulisan karya sastra 1997 (Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi), Hadiah Sastra 1997 (Negeri Kabut), Antologi cerpen Saksi Mata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, “Eye Witness” menerima penghargaan Dinny O’ Hearn Prize For Literary Translation 1997,  Khatulistiwa Award (Kalatidha).

CIRI-CIRI MAZHAB REALISME DALAM CERPEN “MATINYA S EORANG WARTAWAN IBU KOTA” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

1) Tema yang Diangkat Tentang Moral

Cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota” berkisah tentang seorang Marselli, wartawan harian ibu kota yang sangat tangks, gesit, idealis, dan kritis. Saking idealisnya, ia tidak mempertimbangkan keselamatan nyawanya ketika akan menyelidiki sebuah kasus yang menyangkut nama besar seorang pejabat. Sang pemimpin redaksi, Jack Body telah meperingatkannya agar tidak melanjutkan reportase tentang kasus tersebut, tetapi karena naluri kejujuran Mars tinggi, ia tetap akan menyelidiki kasus tersebut. Di akhir cerita, ia dibunuh oleh bosnya sendiri. Lebih parahnya lagi, esok harinya berita kematian Mars dimuat di Sokpas dengan konten berita bahwa Marselli telah meninggal dunia karena serangan jantung.

Dari isi cerita tersebut, menampakkan bahwa cerpen ini mengangkat masalah sosial, di mana moral seseorang terbeli karena kedudukannya akan tersingkir, ia melakukan berbagai cara untuk bisa menghabisi lawan-lawanya, entah penyingkiran secara halus, ataupun penyingkiran berupa penghilangan nyawa lawannya.

Bila dianalisis dengan latar waktu, cerpen ini ditulis pada tahun 1981, saat itu Seno Gumira Ajidarma berprofesi sebagai wartawan. Tahun 1981, adalah bagian dari episode lakonnya orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Seperti telah diketahui pada umumnya, pada rezim orde baru berkuasa, kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat adalah salah satu hak yang benar-benar diisolasi dengan rapat. Jika ada segelintir orang yang berusaha melepas solasi tersebut, maka tak tanggung-tanggung kaki tangan orde baru akan segera “menumpas” dengan rapi orang-orang yang demikian. Isolasi tersebut bukan hanya berlaku bagi orang per orang saja, tetapi juga berlaku bagi semua lembaga yang berkedudukan di republik ini, termasuk media massa.

Pada saat itu, media mana pun yang mencoba “mencubit” pemerintah dan membuka kedok kebobrokan orde baru, akan dibredel dan diberangus habis. Banyak media-media yang saat itu menjadi korban, TEMPO salah satunya. Bahkan, orang per orang yang hidup di dalamnya dibuat demikian resah hidupnya dan beberapa orang dipenjara, dibuang, atau dibunuh secara diam-diam.

2) Kedekatan Kehidupan Pengarang Terhadap Isi Cerpen

Pramoedya Ananta Toer menuliskan kisah yang dialami dan dilihatnya ketika pembuangan melalui tetralogi Buru. Dalam cerpen ini pun ada indikasi yang menunjukkan  bahwa apa yang diceritakan oleh Seno Gumira Ajidarma adalah apa yang dirasakan atau dilihatnya sebagai seorang jurnalis saat itu. Ini menjadi salah satu sudut penilaian, bahwa yang diceritakan dalam cerpen ini tak lain adalah kenyataan yang pernah dilihat oleh penulis.

Masalah dibahas di atas dicoba diangkat oleh penulis dalam cerpen ini. Kenyataan yang terjadi di rezim orde baru ditulis oleh pengarang melalui sebuah fiksi. Kerealisan masalah yang diangkat sesuai dengan kenyataan pada zamannya, berupaya untuk menggambarkan kebobrokan moral para petinggi ini sesuai dengan apa yang tergaris dalam aliran realisme karena seni dalam realisme adalah sarana untuk mengkritik dan menyampaikan pesan moral.

3) Diksi dan Gaya Bahasa yang Digunakan Sangat Realis

Karya sastra bermazhab realisme senantiasa menggunakan gaya bahasa yang realis, tidak menonjolkan gaya bahasa yang mengagungkan keindahan dan perasaan. Bahasa disusun mengalir apa adanya, tidak seperti dalam romantik yang mengagungkan perasaan lewat diksi dan gaya bahasa. Begitu pun gaya bahasa yang digunakan Seno dalam cerpen ini. Dalam cerpen ini, gaya bahasa dan diksi disusun seperti mengalir apa adanya, tanpa menonjolkan hal-hal yang bersifat puitis. Dengan demikian, tidak dibutuhkan kefokusan yang ekstra pada pembaca ketika membacanya untuk dapat mengerti apa yang dituliskan. Tidak seperti dalam karya sastra yang bergaya romantik namun surealis yang juga pernah ditulis Seno seperti dalam novel “Negeri Senja”.

Gaya bahasa realis tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut,

“Wartawan muda itu bernama Marselli, umurnya 25 tahun, badannya kurus, beratnya Cuma 38 kilogram, namun tingginya 189 meter. Ia adalah reporter untuk berita-berita kriminal di koran Sokpas. Dulunya ia bagian film dan hiburan, tapi karena selalu banyak kritiknya terhadap film-film nasional, ia dipindahkan. Pemimpin redaksinya khawatir kalau tak ada lagi produser yang mau pasang iklan di korannya. Padahal, seperti kita ketahui bersama, tak ada koran yang bisa hidup tanpa iklan. Apalagi Sokpas baru seret pemasarannya, “ (Ajidarma, 2003:141).

Nampaklah dalam kutipan di atas, bahwa gaya bahasa dalam cerpen ini tidak begitu nyastra. Pembaca akan dengan sangat mudah memahami isi cerita tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu ciri realis yang terkandung dalam cerpen ini, karena seperti yang diketahui, dalam realisme gaya bahasa yang digunakan kadang kala diksi yang menonjolkan unsur-unsur puitik jarang digunakan.

4). Pendeskripsian Watak Tokoh Digambarkan dengan Jelas

Balzac sebagai seorang sastrawan yang dicap realis pernah dinilai bertele-tele dalam mendeskripsikan sesuatu dalam cerpennya. Hal ini juga coba dilukiskan oleh Seno dalam cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota”, di mana Seno melukiskan watak tokoh utama (Marselli) yang merupakan seorang wartawan kriminal yang gigih, gesit, dan menarik dalam menulis berita secara gamblang.

Penggambaran/pendeskripsian tersebut bahkan mungkin bisa disebut bertele-tele karena ia menghadirkan potongan-potongan berita yang ditulis oleh Marselli dalam format kolom koran. Seperti dalam dua kutipan berikut dalam Ajidarma, 2003:142,

DITEMUKAN MAYAT DALAM KARUNG
JAKARTA, Sokpas 17 oktober. Pada pagi hari kemarin, di tepi jalan raya menuju Karawang, seorang petani bernama Amat menemukan sesosok mayat di dalam karung. Waktu itu sedang berjalan lenggang kangkung sambil menikmati udara pagi, memanggul pacul dan mengisap rokok kawung. Tapi ia tiba-tiba terkejut melihat sepotong kaki mulus yang muncul dari dalam karung, tergolek di pinggir jalan. Ia segera melapor ke kantor polisi terdekat. Menurut sumber yang bisa dipercaya, mayat yang sudah tak bisa dikenali wajahnya itu adalah H, istri kedua haji S dari Bogor yang kini sedang bepergian ke luar negeri. Polisi mengatakan bahwa pengusutan akan dilakuan terus. (mars)
ARIFIN MENINGGAL DIBACOK G
JAKARTA, Sokpas 18 Oktober. Di kampung Trondolo RT 11/RW 009 terjadi perkelahian yang memakan korban jiwa. Arifin telah meninggal dibacok clurit oleh G. Adapun G kemudian melaporkan diri ke pihak yang berwajib. Menurut polisi, Arifin kepergok sedang mengagagahi N istri G. (mars)

Dalam cerpen ini, dimasukkan sembilan buah berita dengan motif pembunuhan yang berbeda-beda. Dengan penggambaran semacam ini, dapatlah diambil kesimpulan bahwa Marselli dalam cerpen ini diceritakan sebagai seorang wartawan yang ulet. Senang meliput berbagai kasus pembunuhan. Penggambaran yang secara gamblang dan realis ini pula lah, menjadi salah satu ciri realis yang terkandung dalam cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota”.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis terhadap cerpen “Matinya Seorang Wartawan Ibu Kota” dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa hal di dalam cerpen tersebut yang sesuai dengan ciri-ciri mazhab realisme. Ciri-ciri realisme yang nampak dalam cerpen tersebut antara lain adalah:

  1. Tema yang diangkat adalah tentang kebobrokan moral, jika ditelusuri alur waktunya sesuai dengan titimangsa penulisan. Jelas, cerpen ini menggambarkan bagaimana sulitnya kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat ketika orde baru duduk di singasana republik ini. Kekuatan yang lain yang menguatkan bahwa cerpen ini merupakan cerpen realis adalah kedekatan pengarang terhadap apa yang dituliskannya saat itu.
  2. Diksi dan gaya bahasa yang disajikan dalam cerpen tersebut tidak menonjolkan diksi dengan gaya puitik dan menonjolkan perasaan, melainkan gaya bahasa yang realis dan mengalir apa adanya.
  3. Pendeskripsian tokoh secara gamblang di dalam cerpen tersebut juga menggambarkan bahwa cerpen tersebut merupakan cerpen bercirikan mazhab realisme.

Published in: on Desember 30, 2009 at 2:22 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Congklak dan Bekel: Pelajaran Menabung

Cingciripit katulang bajing
Saha nu kacapit eta ucing ….

Mungkin sebagian besar dari Anda yang lahir sebelum tahun 1990-an, kalimat di atas bukan merupakan hal yang asing. Kalimat berbahasa Sunda tersebut digunakan oleh anak-anak ketika akan memulai sebuah permainan tradisional berjenis kompetisi, entah itu Boy-Boyan, Ucing Sumput, atau nama permainan lainnya. Sayang, kalimat tersebut telah jarang didengungkan seraya tergantikannya permainan tradisional dengan permainan modern. Anak-anak jaman sekarang lebih gemar mengantre di rental Play Station, meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk menjadi jagoan di arena layar. Telinganya mungkin sama sekali tidak pernah mendengar kalimat itu, apalagi melihat atau bahkan mempertunjukkannya secara langsung sebagaimana lumrahnya kita dulu: sebagai anak-anak. Padahal, jika diteliti, permainan anak tradisional memiliki nilai tinggi, yang membuatnya bukan sekadar permainan.
Marilah kita bernostalgia, tentu Anda ingat akan permainan tradisional Sunda berikut, Bekel (Beklen/bekles), Congklak, Dam-Daman, Boy-Boyan, Oray-Orayan, Sepdur/Slepdur, Karet, Gatrik, Sorodot Gaplok, Engkle/Pecle/Sondah/Sodlah, Perepet Jengkol, Raja-Ratu, dsb. Memang, jika dilihat secara sekilas, permainan yang saya sebutkan tadi hanya sebatas permainan. Akan tetapi, permainan tradisional Sunda memiliki makna yang tidak sedangkal itu. Banyak nilai-nilai yang terkandung di balik simbol-simbol kata yang membangun syair-syairnya atau bahkan konteks pertunjukkannya. Permainan tradisonal Sunda merupakan simbol, refleksi kondisi sosial, dan media pembelajaran bagi anak-anak.

BEKEL
Banyak sekali nama untuk menyebut permainan yang bermediakan biji kuwuk dan bola karet ini. Ada yang menyebutnya Bekel, Beklen, atau Bekles. Nama permainan ini berasal dari kata bèkel, yang dalam bahasa Sunda berari bekal. Permainan berjenis kompetisi ini biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan di waktu senggang. Pola permainannya bersaing dan bertingkat. Barang siapa yang terlebih dahulu mencapai tingkat tertinggi, dialah yang kelak menjadi sang juara.
Banyak nilai-nilai moral yang terkandung di dalam permainan ini. Seorang pemain akan meraup jumlah biji sesuai dengan tingkatannya (yang disebut dengan mi). Ketika mi hiji, maka ia akan meraup jumlah biji satu per satu, begitu seterusnya. Dibutuhkan teknik dan strategi yang jitu dalam memainkan permainan ini. Pemain tidak diperkenankan menyentuh barang sedikitpun biji yang tidak akan diraup, ia juga tidak diperbolehkan meraup kurang atau lebih dari jumlah biji yang disesuaikan dengan tahapan mi.
Melalui hal itulah Bekel mengajarkan nilai-nilai moral sedari dini kepada anak-anak, bahwa hendaknya dalam hidup di bumi ini manusia hendaknya merancang kehidupan agar selamat dan berbekal mapan untuk kehidupan selanjutnya. Tahapan-tahapan permainan Bekel, menunjukkan tahapan-tahapan hidup yang dilalui oleh manusia. Tahapan-tahapan tersebut semakin menanjak, apabila pemain menyusun telah berhasil melewati satu tahapan dengan upaya, strategi, dan cara yang jitu.

CONGKLAK
Bukan hanya Bekel, Congklak yang merupakan sebuah permainan bermedia papan berlubang tujuh dengan satu lubang indung yang juga beralatkan biji (kuwuk, dsb) mengandung nilai-nilai moral bagi anak-anak. Tujuh lubang pada papan permaian Congklak merupakan simbol hari dalam seminggu (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu) yang digunakan sebagai waktu untuk membuka peluang, usaha, dan menuai hasil untuk penghidupan.
Sementara itu, lubang indung merupakan simbolisasi dari lumbung yang digunakan oleh masyarakat agraris. Di lubang indung itulah, manusia menyimpan apa yang telah dihasilkan dari pekerjaan yang telah mereka lakukan selama berhari-hari. Dari sana, tampaklah bahwa Congklak bukan sekadar permainan yang menggunakan media papan berlubang dengan biji-biji kuwuk sebagai alat permainan, melainkan sebagai sebuah pengajaran hidup untuk berusaha di setiap waktu dan kesempatan, serta menyimpannya untuk tabungan di hari mendatang.
***
Bekel dan Congklak merupakan dua permainan yang sama-sama mengajarkan bahwa dalam hidup kita harus berusaha, berjuang, dan senantiasa merancang kehidupan masa depan. kehidupan tidak akan berjalan lancar tanpa adanya hal-hal tersebut. papan diibaratkan sebagai ladang kehidupan, di mana manusia berkompetisi untuk bertahan hidup dan berusaha menghidupi dirinya sendiri. Bekel dan Congklak merupakan trepresentasi masyarakat Sunda lama dalam mengajarkan dan menanamkan arti hidup yang sebenar-benarnya.

Published in: on Desember 30, 2009 at 2:17 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Menonton Sang Pemimpi: 90.000 yang (Tampak) Sia-Sia

Jauh sebelum dirilis, “Sang Pemimpi” yang merupakan sekuel “Laskar Pelangi” begitu riuh ramai dibicarakan orang. Dibumbui vokalis ganteng “Nazriel Ilham”, gemanya semakin berkumandang lantang. Jadi, wajar rasanya kalau saya ikut penasaran. Menoleh ke belakang, saya sangat terpukau dengan film terdahulunya “Laskar Pelangi” (selanjutnya disingkat LP). Lebih dari sepuluh kali menonton, aura dan nuansanya tetap sama seperti baru pertama kali menonton. Kalau dikira-kira, air mata yang tergenang, dahi yang mengkerut, lebarnya mata melotot, menyipit, debaran ketenangan, ketegangan, dan tawa yang terbahak seolah nyaris sama banyak. Hanya saja, di film yang merupakan hasil ekranisasi tersebut, tokoh utama jadi bias karena tiga anggota LP di garda terdepan sama-sama menonjol (Lintang, Ikal, dan Mahar).

Jadi, ceritanya di suatu hari tersebut, saya dan keluarga secara sengaja memanfaatkan waktu luang untuk menonton. Keluarga kami sangat jatuh cinta dengan LP, maka ketika “adiknya” lahir, otomatis kami ingin tahu bagaimana parasnya. Di sebuah bioskop ternama, dengan harga weekend kami berenam tiba di salah satu mall yang terletak di kota hujan. Tepat 11.45, empat pasang kaki dewasa dan dua pasang kaki anak-anak ini tiba di tempat yang dituju. Memilih tempat duduk, lalu membayar karcis, ya…. harga weekend, totalnya Rp.90.000. Kemudian buru-buru masuk studio 1 setelah sebelumnya juga buru-buru jajan roti karena kelaparan. Film sudah dimulai beberapa menit yang lalu, saya di depan tergopoh-gopoh mencari tempat duduk seat J dalam kegulitaan. Berhasil. enam buah sofa merah lalu kami duduki satu per satu.

Mata berbinar campur senang. Itulah perasan saya di awal menonton. Sayang, kebinaran dan kesenangan tersebut juga buru-buru disulap jadi kepenatan. Mengapa? Mari saya uraikan.
1) Alurnya campur (mundur-maju)
Pemilihan alur ini memang sepenuhnya menjadi hak para penggarap film. Akan tetapi, alangkah baiknya jikalau film “semua umur” bisa ditonton dengan alur maju yang rapi dan tidak membosankan.
2) Setting waktunya over dosis
Bukan cuma pecandu narkoba yang bisa over dosis, film juga bisa over dosis jika apa yang dimuatnya terlalu kelebihan beban. Merupakan film lanjutan, memang butuh “ramuan” khusus menggarap setting waktu. Apakah akan turut serta menggendong setting waktu film yang lalu atau mengabaikannya? Di SP, setting waktu sangat berjibun. Diawali dengan masa ketika Ikal tengah tinggal di Bogor, dilanjutkan dengan saat Ikal menjemput Arai, masa kecil mereka, masa remaja, masa lalu Ikal dan ayahnya di PN Timah, kembali lagi ke masa remaja, kemudian berlanjut ke masa saat Ikal dan Arai tiba di Jakarta hingga sampai ke Eropa. Benar-benar menguras tenaga untuk menguraikan waktunya. Penonton merasa diajak melompat-lompat seperti kodok, sambil bersuara “wrebek… wrebek….” Bisa juga diandaikan seperti memasuki pintu waktu Doraemon yang begitu banyak dalam satu waktu.
3) Tangga dramatik skenarionya tak sampai menapak
Seperti novel, di dalam ada semacam alur yang mengajak penonton menanjak-menanjak-mencapai

titik teratas-menurun-menurun (ending). Inilah yang disebut tangga dramatik. Di awal film, penonton harusnya digiring menanjaki tangga satu perlahan untuk meraba jalan cerita, kemudian menanjak lagi dengan ritme yang agak cepat hingga tiba di titik teratas bagaimana konflik yang dramatik begitu memuncak. Usai itu penonton diajak menuruni tangga perlahan-lahan dalam dramatikal solusi hingga mencapai ending. Dan di SP, saya tidak merasa digiring untuk menaiki susunan tangga dramatiknya. Di awal-awal saja, saya merasa diajak berkejut-kejut untuk melompat, setelah itu datar hingga di akhir.
Pengenalan konflik memang ada di awal cerita, tapi setelahnya, konflik menjadi sangat heterogen dan solusinya dapat diketemukan dalam jangka waktu yang pendek. Sayang sekali.
4) Kaya akan pagar beton narasi
Seperti yang saya utarakan sebelumnya, film adalah sebuah karya yang sarat visualitas. Tanpa petunjuk-petunjuk berupa narasi pun, penonton akan dapat memahami apa yang ingin dituju penggarap film. Di film yang dilakoni oleh Lukman Sardi ini begitu kaya dengan narasi. Sebagai penonton, dada saya serasa sesak karena setiap langkah dan nafas saya secara ketat dipagari beton-beton narasi yang sebenarnya tidak perlu.
5) Tokoh yang tidak “tokoh”
Saya tidak tahu bagaimana jalannya casting. Apakah dengan metode yang sama dengan LP (merekrut bocah asli Belitong)? Di luar metode casting, saya merasa tokoh dalam film ini bermain tidak dengan jiwa. Tokoh Jimbron misalnya, yang merupakan kawan Ikal yang bicaranya gagap karena trauma ditinggal oleh kedua orang tuanya, belum sangat total menjadi gagap. Tokoh Ikal juga belum menjadi Ikal ketika sedih dan bahagia, mimiknya tampak tak berbanding ketika sedih dan bahagia.
Selain hal-hal tersebut, saya juga merasa ada satu kejanggalan dalam hal musik. Ada satu musik yang dipertahankan (musik LP yang digunakan kembali di SP) tanpa pembaruan, lagu melayu sangat kaya dalam cerita, sedangkan sountrack yang menjadi tanda musikal (penguat makna) sangat minimalis sekali.

***
Mengubah bentuk dari karya sastra menjadi film (ekranisasi) memang bukan hal yang mudah. Banyak rumus dan konsep yang harus disejalankan. Sementara, kita juga tahu, antara karya sastra dan film adalah dua wajah yang berbeda. Karya sastra merupakan kumpulan kata-kata. Segala hal yang terkandung di dalamnya, benar-benar disampaikan oleh lukisan kata. Sangat berbeda dengan film, yang begitu melimpah ruah dengan visualisasi. Simbol-simbol di dalam karya sastra akan selalu disampaikan melalui bahasa, dan di dalam film, simbol-simbol secara leluasa dapat disampaikan dengan visualisasi.

Sebagai media rekam, film menyajikan gambar figuratif dalam bentuk objek-objek fotografis yang dekat dengan kehidupan manusia (Garsies dalam Madiyant, 163: 2003). Hal itu memang tidak salah lagi, penggambaran setting waktu antara “pagi”, “siang”, “sore”, dan “malam”, di dalam film dapat divisualisasikan melalui gambar-gambar figuratif alam yang memang “dikenali” oleh manusia. Sementara itu, di dalam karya sastra, penggambaran hal tersebut harus secara jelas dan identik dengan yang dikenali manusia melalui bahasa.

Akhirnya, dengan berat hati saya tuliskan perasaan ini, bahwa saya merasa tidak terpuaskan menonton SP. Gemuruhnya yang berdengung-dengung seakan jadi kapas yang hampa setelah saya menontonnya. Uang tunai yang dibayarkan membeli karcis, seakan-akan hanya sebagai penuntas kepenasaran saja. Merogoh kocek 90.000 demi menonton Sang Pemimpi juga rasanya menjadi sia-sia. Unsur keterhiburan hanya secuil terpenuhi, mata menjadi mengantuk, dan perut keroncongan. Kalau sudah begini, inginnya masuk pintu waktu Doraemon agar mengulangi waktu, biar 90.000 ribu itu dipakai saja untuk karaokean. *ting! Tapi, setidaknya cukup juga berguna sebagai lahan pemahaman untuk sekadar nimbrung obrolan tentang film ini dengan teman sekawan. Jadi, jika ada sesorang bertanya, “Udah nonton Sang Pemimpi belum?”, dengan leluasa saya akan menjawab, “Udah dong!”.😀

Published in: on Desember 28, 2009 at 4:03 pm  Comments (1)